439
Sebuah pertanyaan seputar entrepreneurship menarik terlontar dari seorang peserta
seminar yang saya hadiri kemarin sore. Ia merasa kebingungan dengan cara
membangun trust
atau kepercayaan dari pihak lain terutama para investor. Usianya masih muda,
belum banyak pengalaman. Prestasi belum begitu menonjol. Namun, yang pasti
kemauan dan tekad sangat membuncah. Lalu apa yang ia bisa lakukan?
Apa yang ia alami itu sama persis dengan apa
yang saya alami beberapa dekade yang lalu. Dahulu saat saya memulai bisnis,
peran penting unsur kepercayaan dalam membangun usaha sangat terasa.Orang yang
kita ajak kerjasama akan bertanya dengan sinis, “Siapa kamu? Apa latar belakang
kamu? Kamu bisa apa?” Itu semua wajar, dan terjadi hampir pada semua
entrepreneur yang baru memulai berbisnis. Akan tetapi entrepreneur sejati
jangan sampai berhenti karena kendala ini. Keberhasilan Anda mengatasi kendala
ini akan menjadi batu pijakan menuju fase berikutnya.
Cara membangun trust sebenarnya sederhana
tetapi yang terberat ialah ia harus dijaga dan dilaksanakan secara kontinu dan
konstan sepanjang waktu. Pertama, jangan sampai perkataan kita berlainan dari
apa yang kita kerjakan. Dengan kata lain, jaga agar perkataan kita selaras
dengan perbuatan. Mungkin inilah cara paling penting untuk membangun pondasi
kepercayaan orang lain pada diri kita sebagai entrepreneur. Jikalau gagal
mewujudkan perkataan/ janji, tunjukkan bahwa Anda sudah melakukan yang terbaik
yang Anda bisa. Menunda atau membatalkan janji juga berdampak buruk sedikit
banyak bagi nama baik dan kepercayaan Anda.
Kedua, hindari kebohongan meski menurut Anda
itu didasari niat atau keinginan yang baik. Saat kita sebagai entrepreneur,
kita harus berani menyampaikan tidak hanya hal-hal baik dan positif tetapi juga
memberikan kritik dan berita negatif tanpa nada menyalahkan sehingga orang yang
menerima tidak akan bersikap defensif dan memusuhi tetapi tetap bersahabat dan
masalahnya yang sebenarnya terpecahkan. Kejujuran integritas entrepreneur
sangat penting dalam membangun trust.
Selanjutnya, seorang entepreneur pemula juga
jangan memberikan pernyataan yang mengambang. Sebisa mungkin jelaskan. Jika
sikap tertutup dan misterius Anda tunjukkan, orang lain akan merasa ragu untuk
mempercayai. Keterbukaan itu kuncinya. Terbukalah pada investor, namun ingat
juga agar keterbukaan itu jangan disalahartikan sebagai mengumbar semua detil
informasi begitu saja. Pilihlah dengan bijak apa yang bisa dibagikan dan yang
tidak. Berikan informasi tambahan bahkan saat kita tidak diminta.
Untuk membangun trust, perhatikan detil-detil.
Memang tidak semua detil memiliki arti penting, tetapi betul juga bahwa detil
menunjukkan tingkat komitmen kita pada apa yang kita lakukan. Inilah yang saya
masih lakukan dengan melaksanakan site visit atau kunjungan ke
proyek-proyek jika memiliki waktu luang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar