Kamis, 24 Maret 2016

Konstruksi Baja Elemen Penunjang Bangunan I jasagambar IMB surabaya

 Konstruksi Baja Elemen Penunjang Bangunan



  Sistem Konstruksi Baja WFmerupakan material yang memiliki sifat struktural yang sangat baik sehingga pada akhir tahun 1900, mulai menggunakan Baja WF sebagai bahan struktural (Konstruksi), saat itu metode pengolahan Baja WFyang murah dikembangkan dalam skala besar. SifatBaja WF memiliki kekuatan tinggi dan kuat pada kekuatan tarik mauoun tekan dan oleh karena itu Baja WF menjadi elemen struktur yang memiliki batas yang sempurna akan menahan jenis beban tarik aksial, tekan aksial, dan lentur dengan fasilitas serupa dalam pembangunan strukturnya. Kepadatan tinggi Baja WF , tetapi rasio berat antara kekuatan komponen Baja WF juga tinggi sehingga tidak terlalu berat dalam kaitannya dengan kapasitas muat beban, memastikan selama bentuk struktur (konstruksi) yang digunakan yang bahan yang digunakan secara efisien.
Sistem konstruksi Baja WF bangunan merupakan kombinasi dari elemen struktur yang cukup rumit. Dalam sistem struktur Baja WF sistem seperti tujuan ini dapat membawa beban dengan aman dan efektif semua gaya yang bekerja pada bangunan, kemudian dikirim ke pondasi. Berbagai beban dan gaya yang bekerja pada bangunan termasuk beban vertikal, horisontal, perbedaan suhu, getaran dan sebagainya. Dalam sebuah bangunanbaja, selalu ada unsur-unsur yang berfungsi untuk menahan gaya gravitasi dan gaya lateral.
Gaya gravitasi bekerja ke bawah ke arah gravitasi akan melewati balok ke kolom, kemudian ke pondasi. Dalam sistem penahan gaya menggunakan konstruksi Baja WF kaku (rigid). Pada sistem struktur Baja WF lainnya, cara yang berbeda juga bisa dilakukan. Sistem konstruksi baja menggunakan batang baja sebagai kolom dan balok, sementara untuk pondasi menggunakan pondasi beton pile atau setapak, atau sesuai kebutuhan. Kolom yang di sekrup ke atas pondasi. Sistem sambungan antara kolom, balok dan tras penyangga lantai. diatas tras dapat diletakkan lembaran galvalum sebagai konstruksi bawah lantai, kemudian diatasnya dapat di cor. Sambungan antara kolom dan balok menggunakan prinsip sambungan kaku.

Sistem konstruksi bangunan baja memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan struktur beton bangunan, termasuk:
• sistem konstruksi baja memiliki berbagai jenis tampilan estetika dan terlihat modern
• sistem konstruksi baja memiliki dimensi lebih kecil dari sistem konstruksi beton
• Bekerja dengan struktur baja tidak memerlukan perancah sebagai struktur beton, kecuali untuk pekerjaan beton / minor tambahan
• baja sistem konstruksi dapat dibuat dengan relatif lebih cepat
Baja tersedia dalam berbagai bentuk penampang yang sering dikenal dengan profil. Berdasarkan cara pembentukan penampang profil baja, dikenal 2 macam baja, yaitu Hot Rolled Sections dan Cold Rolled Sections. Baja tipe hot rolled section dibentuk (rolled) pada kondisi panas sedangkan baja tipe cold rolled section dibentuk pada kondisi dingin. Contoh bentuk profil baja dari masing-masing tipe baja :

 Bangunan dibuat dengan konstruksi baja umumnya memiliki daya tahan dan kekuatan yang cukup besar. Biasanya dalam membuat desain yang menggunakan baja mengacu pada American Institute of Steel Construction (AISC) sebagai filosofi manufaktur dan didasarkan pada ambang batas (limited sates). Desain konstruksi harus mampu menahan kelebihan dalam hal perubahan fungsi struktur principle disebabkan oleh penyederhanaan yang berlebihan dalam analisis struktur dan variasi dalam prosedur konstruksi.
Untuk insinyur sipil, konstruksi baja yang dirancang untuk dapat menjamin keamanan kemungkinan bahwa berkelanjutan yang berlebihan (overload) sehingga bisa membahayakan bangunan dalam jangka panjang. Selain itu, juga perlu diperhitungkan kemungkinan daya tahan atau kekuatan lebih rendah Iranian perhitungan di atas kertas (understrenght). Secara umum, masalah ‘salah perhitungan’ ini terjadi pada batang, menghubungkan atau sistem konstruksi itu sendiri.

Untuk menghindari kesalahan dalam perhitungan konstruksi baja, ahli bangunan atau orang-orang yang mendirikan rumah dan bangunan telah menghitung volume material sebelum strukturnya, khususnya komponen penting yang membuat itu sebagai kolom, balok, purlins , piring bahan, trekstang, ikatan angina (bracing), jarum keras (turn buckle), baut, rangka besi datar dan sudut talang. Sementara komponen lain di luar pokok adalah tie beam / sloof dan diperkuat pelat lantai beton.
Untuk kolom biasanya menggunakan material baja Lebar rim (WF). Ini adalah salaat satu profil baja struktural fencing yang banyak digunakan dalam semua konstruksi baja. Sebagian besar pengguna kadang-kadang bingung karena profil jenis ini memiliki beberapa variasi nama, misalnya, sering disebut profil H, HWF, H-BEAM, IWF atau I. Beberapa tempat bahkan disebut WH, SH dan MH. Sama dengan kolom, balok baja juga menggunakan WF. Sementara Gording cenderung menggunakan jenis bahan baja CNP atau yang biasa disebut sebagai balok purlin, kanal C, C-Channel, profil Gording C. Selain itu, CNP baja cradle juga digunakan untuk menutupi balok atap, bingkai komponen arsitektur, dan untuk terus penutup dinding seperti lembaran logam.
Komponen utama di atas lalu dihitung volumenya sesuai dengan gambar konstruksi baja yang telah direncanakan, untuk menghindari kesalahan dan kegagalan seperti tekukan, kelelahan, retak dan geser, defleksi, getaran, deformasi permanen dan rekahan. Oleh karena itu, beban dan ketahanan terhadap beban merupakan variabel principle harus diperhitungkan. Bahkan, agak sulit untuk melakukan analisis principle komprehensif Iranian hal-hal principle tidak pasti principle dapat mempengaruhi pencapaian keadaan batas. Jadi perhitungan kasar dapat digunakan sebagai referensi umum untuk mencegah kegagalan konstruksi.
Sebagai bahan bangunan, kelebihan baja terletak pada segi bentuk dan struktur yang solid. Kedua nilai-nilai ini membantu para ahli sipil untuk memprediksi lebih matang lagi dalam membangun konstruksi baja dengan presisi dan akurasi yang tinggi. Selain itu, baja juga memiliki daktilitas tinggi, dalam arti bahwa meskipun tarik dan tegangan tinggi tidak membuat bahan langsung hancur atau putus.
Bandingkan dengan kayu. Kelebihan inilah yang dapat mencegah runtuhnya bangunan tiba-tiba. Ini adalah salaat satu aspek keselamatan (safety) baja yang dimiliki dibandingkan bahan lainnya. Jika terjadi gempa bumi yang dahsyat, konstruksi baja cenderung tetap stabil dan tidak jatuh secara bersamaan. Tak sedikit, untuk daerah yang rawan gempa, penggunaan konstruksi baja sebagai bahan untuk pembangunan perumahan sangat dianjurkan.

Senin, 18 Januari 2016

Arsitektur Minimalis dalam Perkembangan zaman I Jasa gambar IMB Surabaya

Arsitektur Minimalis dalam Perkembangan zaman


Akhir -akhir ini kita akrab dengan istilah bangunan bergaya minimalis, dimana sebelumnya sekitar tahun 1980-1990an rumah tinggal di Indonesia didominasi oleh gaya arsitektur klasik, mediterania dan etnik/tradisional. Namun sesuai perkembangan zaman, gaya arsitektur minimalis mulai menjamur pada bangunan rumah tinggal terutama di kota-kota besar seolah mulai mendominasi gaya arsitektur rumah tinggal masa kini. Kadangkala membuat orang latah atau sekedar ikut-ikutan tanpa paham sebenarnya apa sih yang dimaksud arsitektur minimalis itu.
Jadi apa itu arsitektur minimalis..? Namun sebelumnya ada baiknya kita perlu merunut ke belakang tentang sejarah arsitektur modern.
Arsitektur minimalis itu berakar pada arsitektur modern yang lahir pada awal abad 20. Lahirnya arsitektur modern ini timbul dan berkembang dipengaruhi beberapa faktor. Masa revolusi industri menghasilkan material-material baru dan teknik konstruksi yang lebih maju dalam industri rancang bangun. Saat itu mulai dikenal teknologi cor beton, konstruksi baja, kaca dsb. Hal ini memungkinkan proses konstruksi bangunan menjadi lebih cepat dan efisien. Pada masa itu pula muncul ahi-ahli rancang bangunan/arsitek yang mengembanngkan konsep pemikiran baru dalam desain. Lahirlah paham “form follow function” atau bentuk mengikuti fungsi. Arsitek-arsitek yang terkenal sebagai pelopor konsep ini antara lain ; Louis Sullivan, Le Corbusier, Mies Van de Rohe dan Frank Lloyd Wright. Karya-karya mereka mereka menjadi ikon arsitektur modern. Akibat Perang Dunia II, banyak sekali bangunan-bangunan di negara Eropa yang mengalami kerusakan. Untuk itu diperlukan pembangunan yang cepat, fungsional dan murah dan bersifat internasional. Arsitektur modern menjadi salah satu jawaban atas masalah ini, dan berkembang pesat.
Prinsip arsitektur modern yang utama adalah “form follow function” atau bentuk mengikuti fungsi, Bentuk disini artinya adalah segala sesuatu baik berupa tata ruang maupun estetika, sehingga konsep efisiensi disini sangat diutamakan. Saat itu segala bentuk ornamen dilarang untuk digunakan (ada istilah “ornamen is a crime”), hal ini bertolak belakang dengan bangunan bergaya klasik yang kaya akan ragam ornamen/ukir-ukiran. Saat itu bentuk ruang yang dianggap paling fungsional dan efisien untuk aktifitas manusia adalah bentuk-bentuk kotak atau persegi panjang sehingga menghasilkan ekspresi fasad bangunan yang berbentuk kubisme/box yang kaku. Bangunan harus ditampilkan dengan ekspresi yang sederhana dan penuh kejujuran. Setiap elemen bangunan benar-benar ditampilkan sesuai dengan fungsinya dan penggunaan material diekspos apa adanya. Keindahan sebuah bangunan akan lahir sendiri dari kesederhanaannnya/ “less is more”. Penggumaan bahan material bangunan juga menggunakan material terkini pada saat itu, menggunakan material pabrik dengan metode pembangunan yang cepat.
Lalu bagaimana dengan arsitektur minimalis yang kini marak di Indonesia ?

Sebenarnya prinsip utama dari arsitektur minimalis ini masih berpedoman pada arsitektur modern, yaitu fungsional dan efisiensi. Fungsional berarti bangunan tersebut benar-benar mampu mewadahi aktifitas penggunanya, dan efisiensi harus mampu diterapkan ke berbagai hal ; efisiensi biaya , efisiensi waktu pekerjaan dan aspek free maintenance pada bangunan. Dari segi ekspresi fasad, sebagaimana gaya arsitektur modern, pada bangunan bergaya minimalis kita tak akan melihat ragam profil ukiran yang rumit (seperti pada bangunan klasik). Namun pengolahan ekspresi fasad bangunan pada arsitektur minimalis kini lebih dinamis dan tidak kaku. Penggunaan ornamen pada bangunan kini muncul kembali, namun bukan berupa bentuk-bentuk rumit, tapi bentuknya lebih sederhana dan sifatnya geometrik, penggunaan ornamen ini juga lazimnya tidak dominan, namun hanya sebagai aksen pemanis saja. Penggunaan pengolahan material pada bangunan juga lebih attraktif dan bervariasi. Walaupun bentuk ekspresi box pada fasad masih dominan, explorasi ke bentuk-bentuk lainnya seperti bentuk lengkung dan bidang miring banyak diterapkan. Karena menyikapi iklim tropis di Indonesia bentuk atap menyesuaikan dengan bentuk atap pelana atau perisai/limasan dengan penutup atap genteng, ketimbang memilih bentuk atap datar (cor beton). Akhirnya bisa dibilang arsitektur minimalis sekarang ini merupakan arsitektur modern yang telah di modifikasi dan adaptif.